hargailah orang lain dan juga pekerjaannya, karena itu merupakan ibadah baginya. jangan melihat orang dari segi penempilan tapi pelajari dan lihatlah kepribadiannya, ok cooooy...?
Minggu, 10 Mei 2009
Menjalani Hidup Penuh Makna
antara kewajibab dan tanggungjab dunia akhirat
assalamualaikum WR WB.
Semua orang tau bagaimana orang dilihat dari cara berpakaian, cara berbicara, dan cara bertingkah laku, dari situ semua orang bisa menyimpulkan bagaimana orang tersebut, bahkan ketika seseorang berhadapan dengan orang yang sangat fanatik dengan orang yang diluar komunitasnya, mereka akan mengatakan, "orang tersebut tidak benar", demikian ketika berbicara dari segi agama (religi), seseorang yang sangat fanatik akan selalu melihat orang yang ada diluar komunitasnya akan memandang di selalu salah, akan tetapi secara tidak langsung mereka tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan olehnya tersebut selalu benar. Oleh karena itulah bangsa indonesia yang memiliki berbagaimacam suku bangsa dan agama, tidak mendirikan sebuah negara islam (karena manyoritas penduduk Indonesia beragama Islam).
Ketikan kita dihadapkan dengan berbagai dengan hari-hari keagamaan, misalkan, hari natal, hari Nyepi, waisak, Romadon dan Idul Fitri dan lain sebagainya, disitulah masyarakat diuji bagaimana menghargai kaidah-kaidah dari agama lain, orang katolik/protestan harus menghargai ketika umat islam menjalankan ibadah puasa romadhon, ketika nyepi aga yang lain harus berteleransi, akan tetapi kenapa, selama ini di indonesia yang manyoritas aga islam tidak bisa menghargai keidupan orang lain, dia tidak sadar pada saat itu umat islam di uji ketika menjalankan ibadah puasa, apa paedahnya kita siang hari berpuasa tetapi malamharinya merusak warung-warung makan yang ada di pinggir-pingir jalan, bertindak anarkhis terhadap timpat-tempat maksiat, bukankah hal seperti itu merugikan orang lain, berarti dengan kesimpulan sementara bahwa orang tersebut masih belum memiliki jiwa islam yang sesungguhnya, mereka hanya menjalankan kewajiban seperti solah 5 waktu, membaca alqur'an mendengarkan ustadz berceramah, tetapi dia tidak fahap apa yang seharusnya diterapkan di lapangan, mereka tidak tahu apa itu kehidupan di dunia dan tidak menyedari bahwa kehidupan di dunia adalah cermin kita nanti diakherat.
dari situlah timbul pertanyaan apakan orang muslim yang fanatik tidak memiliki hati nurani, apakah dia tidak sadar kalau dia hidup di antara orang-orang berkenyakinan lain, kalau memang tidak tahan dengan cobaan biarkan dia hidup di dalam hutan belantara.
kita hidup di dunia bagaikan mampir untuk makan dan minum, karena dengan makan dan minum dapat menambah umur kita lebih panjang, maka dari itu dengan kesempatan kita berada di dunia kita harus memanfaatkan kehidupan ini sebaik mungkin, tidak hanya untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan kita, melaikan menjalankan apa yang diperintahkan oleh agama yang koita anut....
assalamualaikum WR WB.
Semua orang tau bagaimana orang dilihat dari cara berpakaian, cara berbicara, dan cara bertingkah laku, dari situ semua orang bisa menyimpulkan bagaimana orang tersebut, bahkan ketika seseorang berhadapan dengan orang yang sangat fanatik dengan orang yang diluar komunitasnya, mereka akan mengatakan, "orang tersebut tidak benar", demikian ketika berbicara dari segi agama (religi), seseorang yang sangat fanatik akan selalu melihat orang yang ada diluar komunitasnya akan memandang di selalu salah, akan tetapi secara tidak langsung mereka tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan olehnya tersebut selalu benar. Oleh karena itulah bangsa indonesia yang memiliki berbagaimacam suku bangsa dan agama, tidak mendirikan sebuah negara islam (karena manyoritas penduduk Indonesia beragama Islam).
Ketikan kita dihadapkan dengan berbagai dengan hari-hari keagamaan, misalkan, hari natal, hari Nyepi, waisak, Romadon dan Idul Fitri dan lain sebagainya, disitulah masyarakat diuji bagaimana menghargai kaidah-kaidah dari agama lain, orang katolik/protestan harus menghargai ketika umat islam menjalankan ibadah puasa romadhon, ketika nyepi aga yang lain harus berteleransi, akan tetapi kenapa, selama ini di indonesia yang manyoritas aga islam tidak bisa menghargai keidupan orang lain, dia tidak sadar pada saat itu umat islam di uji ketika menjalankan ibadah puasa, apa paedahnya kita siang hari berpuasa tetapi malamharinya merusak warung-warung makan yang ada di pinggir-pingir jalan, bertindak anarkhis terhadap timpat-tempat maksiat, bukankah hal seperti itu merugikan orang lain, berarti dengan kesimpulan sementara bahwa orang tersebut masih belum memiliki jiwa islam yang sesungguhnya, mereka hanya menjalankan kewajiban seperti solah 5 waktu, membaca alqur'an mendengarkan ustadz berceramah, tetapi dia tidak fahap apa yang seharusnya diterapkan di lapangan, mereka tidak tahu apa itu kehidupan di dunia dan tidak menyedari bahwa kehidupan di dunia adalah cermin kita nanti diakherat.
dari situlah timbul pertanyaan apakan orang muslim yang fanatik tidak memiliki hati nurani, apakah dia tidak sadar kalau dia hidup di antara orang-orang berkenyakinan lain, kalau memang tidak tahan dengan cobaan biarkan dia hidup di dalam hutan belantara.
kita hidup di dunia bagaikan mampir untuk makan dan minum, karena dengan makan dan minum dapat menambah umur kita lebih panjang, maka dari itu dengan kesempatan kita berada di dunia kita harus memanfaatkan kehidupan ini sebaik mungkin, tidak hanya untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan kita, melaikan menjalankan apa yang diperintahkan oleh agama yang koita anut....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar